KEASLIAN
tentang akal,tentang rasa,tentang diri dan jiwa

Mar
28

Syeikh Jalaluddin Rumi
Rumi berkata: Siapa nama anak muda itu ? Seseorang menjawab: “Syaifuddin (PedangAgama)”.

Rumi berkata: Tak seorang pun menilai sebuah pedang sedangkan la masih berada di dalam sarungnya. Sesungguhnya, Pedang Agama adalah seseorang yang mempertahankan sang jalan, mempersembahkan kerja keras mereka sepenuhnya kepada Allah, yang mengungkap kebenaran dari kesalahan dan membedakan yang hak dari yang batil. Tetapi terlebih dahulu mereka mengoreksi diri dan memperbaiki sifat mereka sendiri: “Mulailah dari dirimu sendiri,” kata Nabi.

Jadi mereka mengarahkan seluruh kedisiplinan mereka kepada diri sendiri, seraya berkata, “Pada akhirnya, aku juga seorang manusia. Aku memiliki tangan dan kaki, telinga dan pemahaman, mata dan mulut. Para nabi dan wali yang mencapai ridha Allah dan, mencapai tujuan mereka-mereka adalah manusia seperti diriku dengan akal, lidah, tangan dan kaki. Mengapa mereka ditunjukkan ke jalan itu? Mengapa pintu ini yang terbuka bagi mereka, tertutup untukku?” Orang semacam itu mengoreksi diri siang malam, dan berjuang, seraya berkata, “Apa yang aku lakukan, sehingga aku tidak diterima?” Mereka terus mencari sampai mereka menjadi Pedang Allah dan Lidah Kebenaran.

Misalnya, sepuluh orang memasuki sebuah rumah. Sembilan menemukan jalan itu, tetapi yang satu tetap berada di luar dan tidak diizinkan masuk. Tentu saja orang ini menengok batinnya dan meratap, seraya berkata, “Apa yang telah aku lakukan sehingga aku tetap berada di luar? Sikap-sikap apa yang membuatku bersalah?” Orang itu menghubungkan kesalahan itu kepada dirinya sendiri dan mengakui kesalahan dan keburukan sikap mereka. Mereka tidak akan pernah berkata, “Allah telah melakukannya kepadaku, apa yang bisa aku lakukan? Atas kehendak Allah-lah ini terjadi. Jika Allah memang menghendakinya, tentu saja aku akan ditunjukkan ke jalan itu.” Kata-kata semacam itu sangat menyelewengkan Allah dan menghunuskan pedang melawan Allah. Orang semacam itu akan menjadi Pedang Melawan Allah dan bukan Pedang Allah.

Allah berada jauh dari memiliki keluarga dan kawan. “Dia tidak pernah lupa, dan belum pernah dilupakan,” kata al-Qur’an. Kamu tidak dapat mengatakan bahwa mereka yang telah menemukan jalan menuju Allah lebih menjadi sanak Allah, lebih kawan-Nya ataupun lebih erat berhubungan dengan-Nya. Tak seorang pun pernah berdekatan dengan Allah kecuali dari bawah.

Allah sangat berkecukupan, Kamulah orang-orang yang membutuhkan.
Berdekatan dengan Allah tidak pernah dicapai, kecuali melalui pengabdian dan kepasrahan. Dia adalah Maha Pemberi. Dia memenuhi baju lautan dengan batu-batu mulia, Dia membungkus onak dalam hiasan mawar, Dia memberkati kehidupan dan ruh di atas segenggam debu, segalanya tanpa pendahulu, semua tanpa pembedaan. Seluruh dunia menerima bagian mereka dari-Nya.

Ketika orang-orang mendengar tentang seorang yang dermawan yang membagi-bagi hadiah dan pertolongan yang sangat berharga, umumnya mereka ingin berkunjung kepada seorang pemberi harta semacam itu, dengan harapan akan menerima satu bagian dari pemberian itu. Karena Keagungan Allah begitu terkenal di seluruh dunia, mengapa tidak kamu memohon saja kepadaNya? Mengapa tidak kamu meminta kepada-Nya jubah jubah kehormatan, atau hadiah yang mewah? Malah, kamu duduk dengan jumud sambil berkata, “Jika memang Dia menginginkannya, Dia bisa memberikannya kepadaku.” Jadi, kamu tidak pernah meminta apa pun kepada-Nya.

Seekor anjing, tanpa akal atau pemahaman, ketika lapar, datang kepadamu dan mengibaskan ekornya seolah-olah hendak berkata, “Beri aku makanan. Aku lapar pada makanan yang kamu punyai. Tolong beri aku sedikit saja.” Seekor anjing tahu itu… Apakah kamu lebih bodoh dari anjing? Anjing tidak puas untuk tidur malas-malasan dan berkata, “Jika dia mau, dia akan memberikan makanan itu kepadaku,” tetapi memohon dan mengibaskan ekornya. Jadi, hendaknya kamu mengibaskan ekormu dan memohon kepada Allah, karena di hadapan Sang Pemberi itu, memohon adalah ungkapan hasrat yang mengagumkan. Jika kamu kekurangan harta, mintalah kepada Dzat Yang tidak kikir, dan penjaga kekayaan yang besar.
Allah selalu dekat denganmu. Setiap pikiran dan gagasan yang kamu pahami, di situ ada Allah – karena Allah memberi wujud kepada gagasan dan pikiran itu. Tetapi Allah begitu dekat sehingga kamu tidak bisa melihat-Nya. Apa yang aneh? Dalam setiap perbuatan yang kamu lakukan, akal membimbingmu dan mengawali tindakanmu, tetapi kamu tidak melihat akalmu. Kamu melihat efeknya, tetapi kamu tidak bisa melihat esensinya. Misalnya orang pergi mandi. Kemana pun mereka pergi di dalam bak mandi, mereka merasakan panasnya api, meskipun mereka tidak melihat api itu. Ketika mereka meninggalkan bak itu, maka mereka melihat api dan nyalanya yang sesungguhnya. Dari sini, mereka mengetahui bahwa panas bak mandi berasal dari sebuah api.
Manusia juga merupakan sebuah bak raksasa, dan di dalam dirinya bersemayam panas akal, ruh dan keakuan yang rendah. Tetapi ketika kamu meninggalkan bak ini dan memasuki dunia yang lain, kamu melihat esensi-esensi yang sesungguhnya. Maka kamu mengetahui bahwa kecerdasan berasal dari pancaran akal, bahwa penyimpangan dan pretensi memancar dari keakuan yang rendah, dan denyut kehidupan itu sendiri adalah hasil dari ruh. Kamu dapat dengan jelas melihat esensi-esensi ketiganya, tetapi sepanjang kamu berada di dalam bak, ketiga esensi itu tak terlihat. Kamu hanya dapat mengalami efeknya.

Ketika kita berada di Samarkand, Khwarizmsyah bergegas menuju Samarkand dan mengadakan penyerangan bersama balatentaranya. Tidak jauh dari kita hiduplah seorang gadis yang sangat cantik, begitu cantiknya sehingga tak seorang pun dapat menyamainya di seluruh penjuru kota. Aku mendengarnya berkata, “Oh Tuhan, aku tahu Engkau tidak pernah mengizinkanku jatuh ke tangan para pembuat dosa. Aku tahu Engkau tidak pernah mengizinkan itu. Aku pasrah kepada-Mu, Ya Allah.”

Ketika kota dikalahkan dan seluruh penduduknya dijadikan tawanan, bahkan para pelayan wanita gadis itu pun ditangkap. Tetapi gadis itu dibiarkan saja. Karena seluruh kecantikannya, tak seorang lelaki pun tahan untuk menatapnya. Dari sini, ketahuilah bahwa siapa pun yang memasrahkan diri kepada Allah akan tetap aman dari marabahaya dan selamat. Tak satu pun permohonan manusia di hadapan Allah itu diabaikan. Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah, dan tuntutlah apa yang kamu butuhkan dari Allah, karena permohonanmu tidak akan sia-sia.
“Panggilah Aku dan Aku akan menjawabmu.”

Seorang darwis mengajarkan kepada anak laki-lakinya bahwa apa pun yang dia butuhkan, “Mintalah kepada Allah.” Bertahun-tahun berlalu. Suatu hari, ketika anak itu sendirian di dalam rumah, dia menjadi lapar. Seperti biasanya dia berkata, “Aku lapar, aku ingin makan.” Tiba-tiba semangkuk bubur muncul, dan anak itu memakannya sampai kenyang. Ketika ayah dan ibunya pulang, mereka berkata, “Tidakkah kamu lapar?” Sang anak menjawab, `Aku hanya meminta makanan dan melahapnya.” Ayahnya berkata, “Terpujilah Allah, keimanan dan kepasrahanmu kepada Allah telah tumbuh kuat.”

Ketika Maryam dilahirkan, ibunya bersumpah akan mempersembahkan Maryam kepada Rumah Allah dan tidak menyokongnya. Dia meninggalkan Maryam di sebuah Kuil. Zakaria kemudian merawat anak itu, tetapi semua orang menginginkannya juga. Pada zaman itu, jika ada kelompok yang bertentangan, maka sebuah tongkat harus dilemparkan ke dalam air-orang yang tongkatnya mengambang paling lama dialah yang berhak. Demikian terjadilah pada tongkat Zakaria yang mengambang paling lama. Mereka semua setuju bahwa dia memiliki hak untuk merawat Maryam. – Jadi, setiap hari Zakaria membawa makanan kepada anak itu, tetapi : dia selalu menemukan pasangan makanan yang sama di samping `anak itu. Dia berkata, “Maryam, aku bertanggung jawab kepadamu. Dari mana asal makanan ini?” Maryam menjawab, “Kapan saja aku membutuhkan makanan, aku memohon kepada Allah dan Dia mengirimkannya kepadaku. Karunia dan kasih sayangnya tanpa batas. Siapa pun pasrah kepada-Nya, kepercayaannya tidak akan sia-sia.”

Sekarang, setelah Zakaria menyadarinya dia berdoa, “Ya Allah, karena Engkau memenuhi kebutuhan anak ini, tolong kabulkan keinginanku. Berilah aku anak laki-laki yang kelak akan menjadi kawan-Mu, yang, tanpa enggan, akan berjalan bersama-Mu dan khusyuk dalam kepatuhan kepada-Mu.” Allah menghidupkan Ismail, meskipun ayahnya tua dan lemah, sedangkan ibunya sangat tua dan belum pernah melahirkan seorang anak pun ketika masih muda. Tetapi, dia hamil dan melahirkan anak itu.

Tidakkah kamu lihat bahwa semua ini tidak lain adalah bukti atas kemahakuasaan Allah? Segala sesuatu berasal dari-Nya, dan kehendak-Nya pasti akan terlaksana. Orang beriman tahu bahwa di balik dinding ada Dzat Yang mengenal setiap keadaan dalam kehidupan kita, satu demi satu, dan yang melihat kita meskipun kita tidak melihat-Nya. Tetapi mereka yang berkata, “Tidak, ini hanyalah sebuah kisah,” mereka tidak dapat mempercayainya. Saatnya akan tiba ketika mereka akan menyadari kesalahan mereka.

Misalnya, kamu sedang bermain petak umpet. Sekalipun kamu tidak melihat siapa pun, jika kamu tahu orang-orang berada di balik dinding sambil mendengarkan, kamu akan terus bermain, karena kamu adalah seorang pemain petak umpet. Pada akhirnya, tujuan shalat bukanlah berdiri, ruku’ dan sujud sepanjang hari, karena saat-saat kesatuan spiritual yang kamu miliki dalam shalat hendaknya selalu bersamamu. Baik ketika tidur atau terjaga, menulis atau membaca, kamu hendaknya tidak jauh dari mengingat Allah.

Berbicara dan membisu, tidur dan terjaga, marah dan mema`afkan semua sifat ini hendaknya seperti bergulirnya kincir air. Tentu saja kincir berputar karena air, dan la tahu ini, karena ia telah mencoba untuk bergerak tanpa air. Kincir mana pun yang percaya bahwa la adalah sumber perputarannya sendiri adalah sifat kebodohan dan kejumudan.

Sekarang perputaran ini terjadi di dalam sebuah ruang yang sempit, karena itulah sifat dunia materi ini. Oleh karena itu, berkatalah kepada Allah, “Ya Allah, anugerahkan kepadaku perputaran lain yang bersifat spiritual, karena semua kebutuhanku telah Engkau penuhi.” Oleh karena itu, bawalah kebutuhan-kebutuhanmu kepada-Nya segera, dan jangan pernah sekalipun melupakan-Nya, karena mengingat-Nya adalah kekuatan, bulu dan sayap bagi seekor burung jiwa.

Melalui pengingatan kepada Allah, sedikit demi sedikit hati ruhaniah menjadi teriluminasi dan terlepas dari dunia materi. Sebagaimana seekor burung yang mencoba untuk terbang ke langit, meskipun la tidak pernah berhasil mencapai tujuan itu, tetapi setiap saat la terbang menjauh dari bumi dan memanggil burungburung yang lain. Atau misalnya, bebauan menyergap dari dalam sebuah kaleng, tetapi mulut kaleng itu terlalu kecil, dan ketika kamu mencapai di dalamnya kamu tidak bisa membuang bebauan itu. Sebaliknya, tanganmu wangi dan hidungmu penuh dengan aroma itu.

Jadi dengan mengingat Allah-lah: meskipun di saat ini kamu tidak mencapai Esensi Allah, tetapi kamu meninggalkan jejaknya padamu, dan kamu mendapatkan keuntungankeuntungan besar yang dimunculkan dari jejak itu.

Mar
28

Imam Al-Ghazali
Ma’rifat adalah maqam kedekatan (qurb) itu sendiri yakni maqam yang memiliki daya tarik dan yang memberi pengaruh pada kalbu, yang lantas berpengaruh pada seluruh aktivitas jasmani (jawarih). `Ilm (ilmu) tentang sesuatu adalah seperti “melihat api” sebagai contoh, sedangkan  ma`rifat adalah “menghangatkan diri dengan api”.

Menurut bahasa, ma`rifat adalah pengetahuan yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Adapun menurut istilah yang sering dipakai menunjukkan ilmu pengetahuan tentang apa saja (nakirah). Menurut istilah Sufi, ma`rifat adalah pengetahuan yang tidak ada lagi keraguan, apabila yang berkaitan dengan objek pengetahuan itu adalah Dzat Allah swt. dan Sifat-sifat-Nya. Jika ditanya, `Apa yang disebut ma`rifat Dzat dan apa pula ma’rifat Sifat?” Maka dijawab bahwa ma’rifat Dzat adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah swt. adalah Wujud Yang Esa, Tunggal, Dzat dan “sesuatu” Yang Mahaagung, Mandiri dengan Sendiri-Nya dan tidak satu pun yang menyerupai-Nya.

Sedangkan ma’rifat Sifat adalah mengetahui sesungguhnya Allah swt. Mahahidup, Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan seluruh Sifat-sifat Keparipurnaan lainnya.
Kalau ditanya, `Apa rahasia ma`ri fat?” Rahasia dan ruhnya adalah tauhid. Yaitu, jika anda telah menyucikan sifat-sifat Mahahidup, Ilm (Ilmu), Qudrah, Iradah, Sama ; Bashar dan Kalam Allah dari segala keserupaan dengan sifat-sifat makhluk [dengan penegasan bahwa tiada satu pun yang menyamai-Nya].

Lalu, apa tanda-tanda ma`rifat? Tanda-tandanya adalah hidupnya kalbu bersama Allah swt. Allah swt. mewahyukan kepada Nabi Dawud a.s., “Mengertikah engkau, apakah ma’rifat-Ku itu?” Dawud menjawab, “Tldak.”Allah berfirman, “Hidupnya kalbu dalam musyahadah kepada-Ku. “

Kalau ditanya, “Tahap atau maqam manakah yang dapat disahkan sebagai ma `rifat yang hakiki?” [Jawabnya] adalah tahap musyahadah (penyaksian) dan ru’yat (melihat) dengan sirr qalbu. Hamba melihat untuk mencapai ma’rifat. Karena ma’rifat yang hakiki ada dalam dimensi batin pada iradah, kemudian Allah swt. menghilangkan sebagian tirai (hijab), lantas kepada mereka diperlihatkan nur Dzat-Nya dan Sifat-sifat-Nya dari balik hijab itu agar mereka sampai pada ma’rifat kepada Allah swt. Hijab itu tidak dibukakan seluruhnya, agar yang melihat-Nya tidak terbakar.
Sang Sufi bersyair dengan ungkapan pencapaian pada tahap spiritual tertentu :
Seandainya Aku tampak tanpa hijab
Pastilah seluruh makhluk sempurna

Namun hijab itu amat halus
Agar merevitalisasi kalbu para hamba yang `asyiq.
Ketahuilah, bahwa manifestasi (tajalli) keagungan melahirkan rasa takut (khauf) dan keterpesonaan (haibah). Sedangkan manifestasi keelokan (al-Hasan) dan Keindahan (al-Jamal) melahirkan keasyikan. Sementara manifestasi Sifat-sifat Allah melahirkan mahabbah. Dan manifestasi Dzat meniscayakan lahirnya penegasan keesaan (tauhid).

Sebagian ahli ma’rifat berkata, “Demi Allah, tidak seorang pun yang mencari dunia, selain orang itu dibutakan kalbunya oleh Allah, dan dibatalkan amalnya. Sesungguhnya Allah menciptakan dunia sebagai kegelapan, dan menjadikan matahari sebagai cahaya. Allah menjadikan kalbu juga gelap, lalu dijadikan ma’rifat sebagai cahayanya. Apabila awan telah tiba, cahaya matahari akan terhalang. Begitupun ketika kecintaan dunia tiba, cahaya ma’rifat akan terhalang dari kalbu.”
Ada pula yang mengatakan, “Hakikat ma’rifat adalah cahaya yang dikaruniakan di dalam kalbu Mukmin, dan tiada yang lebih mulia dalam khazanah kecuali ma’rifat.”

Sebagian Sufi berkata, “Matahari kalbu Sang `Arif lebih terang dan bercahaya dibandingkan matahari di siang hari. Karena matahari pada siang hari kemungkinan menjadi gelap karena gerhana, sedangkan matahari kalbu tiada pernah mengalami peristiwa gerhana (kusuf). Matahari siang tenggelam ketika malam, namun tidak demikian pada matahari kalbu.” Mereka mendendangkan syair:
Matahari siang tenggelam di waktu senja
matahari kalbu tiada pernah tenggelam
Siapa yang mencintai Sang Kekasih
`Kan terbang sayap rindunya
menemui Kekasihnya.

Dzun Nun berkata bahwa hakikat ma’rifat adalah penglihatan al-Haq atas rahasia-rahasia relung kalbu melalui perantaraan (muwashalah) Kilatan-kilatan lembut (latha’if) cahaya-cahaya:
Bagi orang `arifin, terdapat kalbu-kalbu yang diperlihatkan
Cahaya I1ahi dengan rahasia di atas rahasia
Yang terdapat dalam berbagai hijab
Tu1i dari makhluk, buta dari pandangan mereka
Bisu dari berucap dalam klaim-klaim dusta.

Sebagian di antara mereka ditanyai, “Kapankah seorang hamba mengetahui bahwa dia telah mencapai ma’rifat yang hakiki?” Dijawab, “Tatkala dia mencapai tahapan tidak menemukan dalam kalbunya sedikit pun ruang bagi selain Tuhannya.”

Sebagian Sufi ada pula yang berkata, “Hakikat ma’rifat adalah musyahadah kepada Yang Haq tanpa perantara, tanpa bisa diungkapkan, tanpa ada keraguan (syubhah).” Seperti ketika Amirul-Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a. ditanya, “Wahai Amirul-Mukminin, apakah yang anda sembah itu yang dapat anda lihat atau tidak dapat anda lihat?” “Bukan begitu, bahkan aku menyembah Yang aku lihat, bukan dengan penglihatan mata, tetapi penglihatan kalbu,” jawab Ali.
Ja’far ash-Shadiq ditanya, “Apakah anda pernah melihat Allah swt.?”
“Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak bisa kulihati” Ditanyakan lagi, “Bagaimana anda melihat-Nya, padahal Dia tidak dapat dilihat mata?”

Ja’far menjawab, “Mata penglihatan fisik tidak bisa melihat-Nya, tetapi mata batin (al-qulub) dapat melihat-Nya melalui hakikat iman. Tidak diketahui melalui penginderaan dan tidak pula dianalogikan dengan manusia.”

Sebagian `arifin ditanya seputar hakikat ma’rifat. Mereka berkata, “Menyucikan sirr (rahasia) kalbu dari segala kehendak ‘ dan meninggalkan kebiasaan sehari-hari, tentramnya kalbu kepada Allah swt. tanpa ada ganjalan (`alaqah), berhenti dari sikap berpaling dari Allah swt. dan menuju selain Allah swt. Mustahil, ma’rifat kepada substansi Dzat-Nya dan Sifat-sifat-Nya, dan tidak akan diketahui siapa Dia, kecuali melalui Dia sendiri, Yang Mahaluhur, Mahatinggi, serta Kemuliaan hanya kepada Diri-Nya saja.”

Mar
05

Seorang ikhwah itu ta pernah mengeluh kepada manusia.
Hanya Tuhan yang Maha Tinggi tempatnya mengadu.
Hari-harinya dalam dinamis, hati dan fikiranya ta pernah berhenti dari menujuNYA.
Ia terus bergerak bersama semangaat pantang menyerah para syuhada.
Ia terus membongkar ke-aku-an dan kebodohannya
Hidupnya adalah memberi kemanfaatan.
Nuraninya selalu sensitive dan peka terhadap setiap kejadian.
Sebab ia berfikir, bahwa Allah tidak mengambil sesuatu darinya, kecuali untuk bersabar. Dan Allah tidak memberi sesuatu kepadanya, kecuali untuk selalu bersyukur.
Jalan dakwah telah ia pilih sebagai sarana mengumandangkan takbir.
Jalan dakwah telah ia pilih sebagai sarana instropeksi dan selalu memperbaiki diri.
Ia telah menjual diri dan jiwanya kepada Tuhannya.
Ia hanya ingin teguh dan setia atas jalan MUHAMMAD yang telah memberi kabar gembira.
Sebagaimana Ni’mat-nikmat yang telah di bentangkan dari bumi belahan timur hingga bumi belahan barat, ia ingin mengaisnya bersama ke ridho-anNYA.
Setiap kesalahan ia jadikan ladang pertaubatan.
Setiap kebenaran ia jadikan sarana mengukir keyakinan dalam sanubarinya.
Menyongsong janji Tuhannya.

,dahlan

Feb
04

Bumi dan langit di lihat dari sisi dan sudut manapun dari tanah kita berpijak ini, jaraknya luar biasa jauhnya.Belum pernah ada yang mengetahui secara pasti,berapa nilai sebenarnya yang dapat mewakilinya bila di wujudkan dalam angka-angka.Seluruh riset yang di lakukan oleh para ilmuwan masih bersifat perkiraan dan praduka. Bak ungkapan yang mengatakan bahwa “mendung ta berarti hujan”, semua menunjukan ketidakpastian, seperti mereka ta bisa menjamin dengan kepastian angka-angka. Jadi memang mustahil menurut akal jika bumi dan langit bisa di persatukan Tapi bukan kemustahilan bagi Tuhan penguasa langit dan bumi. Karena semua bentuk kepastian hanya milik Illahi Robbi. Masa yang akan datang masih jadi rahasia kegaiban yang belum terpecahkan bagi setiap diri.Berlakulah hukum sebab akibat di alam akal.Dan Allah akan menjawab setiap apa yang di usahakan,dengan atau tanpa kesadaran.
Namun demikian, jauhnya jarak antara bumi dengan langit sedikit mewakili atas apa yang telah aku alami dan lewati jika di lihat dari sisi keberadaanya.
November 2008,
Kekalutan mulai menggelayuti pikiranku,bukan karena di usir oleh orang tua yang sedang pusing memikirkan anggaran kontrakan atau oleh penyakit kanker alias kantong kering yang biasa menggerogoti umumnya bujangan.Akan tetapi ini persoalan terbenturnya harapan kepada seorang perempuan yang kebetulan berdarah ningrat, bercita rasa feodal.Setelah membuka kamus-kamus bab kewanita-an baik dari tutur kata para pendahulu atau dari buku-buku kontemporer dan kekinian,hati kecilku menghardik “ini harus aku akhiri,jika aku ta ingin semakin ta waras”.
Perempuan kantoran asal kota Malang itu telah membongkar pemahamanku.Bahwa harapan ta mesti terjawab singkat.Bahwa manusia dan materi ta bisa di pisahkan.Menikah bukan hanya menyatukan dua jenis manusia yang berbeda,dua karakter yang tidak selalu sejalan.Akan tetapi juga menyatukan dua keluarga besar yang memiliki harapan dan kadar cita-cita beragam antara satu dengan yang lain.Sebagai perempuan, ia hanya ingin menyambung dan mewujudkan harapan orang tuanya.Tentunya menikah harus dengan lelaki taat dan mapan.Tujuanku pun mentah seketika sebelum aku sempat memupuk harap.Sungguh ta enak rasanya di tendang dari rasa berharap.
Langkahku terasa ringan namun jelas. Menuju ke sebuah warnet, segera aku buka majlis biang keladi itu (A.N).Sebelum unsubscribe atau mengundurkan diri dengan terhormat dari milis perjodohan itu, naluri ke-bujanganku kembali menampakkan kesungguhanya.Dasar naluri, ia begitu cepatnya menyelusup masuk dan memberikan instruksi-instruksi dari alam yang katanya di bawah sadar.Wajah keibuan dengan senyum mengembang terpampang mempesona di layar monitor, hingga menyita penglihatanku untuk ta melewatkanya.Dosen muda,motivator, memimpikan seorang imam bagi dirinya,demikian aku lihat sekilas foto dan profilenya.
”Ah, siapa yang takut padamu, kalo di sandingkan dengan supir taxi tentu seru juga mungkin ya”gumamku dalam hati, yang akhirnya aku dapat nomor hpnya.
Cerita dari kisah perjalanan baru saja di mulai bersama sang Dosen muda itu. Kekalutan yang ada mulai malu menampakan diri dan hanya mampu bersembunyi di balik harapan yang masih ta pasti. Tapi tetap, niat untuk lari dari majlis dunia maya itu ta di urungkan.
Waktu berjalan tenang dan pasti,hari pertama pembicaraan berlangsung begitu santai dalam kesan.Menit-menit berikutnya ta ada yang di lewati tanpa kata-kata dan tulisan.Semua mengalir seperti air yang menghendaki akhiran aliranya adalah muara bahagia yang tak bertepi.Pada hari ketiga sudah banyak yang kami temui dan lalui. Yang pada dasarnya sama dengan wanita asal kota malang itu. Aku terbentur persoaln yang sama.Hingga aku merasa akalku sudah ta lagi bersemaayam di singgasananya.Aku mulai berfikir tentang aliran-aliran yang sudah tercemari oleh virus-virus kelena-an di tambah ketidak mungkinan-ketidak mungkinan yang tampak jelas di pelupuk mata.Aku memutuskan untuk mengakhiri perjumpaan yang terlampau manis ini,tapi ta di sangka justru ia tersedu ta tau.Entahlah, tiba-tiba badai harapan menyerangku dengan dahsyatnya, ta ada lagi yang mengisi rongga dadaku selain tumpukan-tumpukan kegirangan yang kian meninggi.
Tidak ada ungkapan atau tulisan bahkan janji setia yang secara implisit mengikat kami, seluruhnya tersirat bersama angan-angan yang membayangi kemanisanya.Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, waktu demi waktu kami lalui dalam kebersamaan suara dan kata.Aku menemukan dunia dalam keadaanya yang baru,ia memberiku segudang persoalan dan jawaban atas ketidak nyamananku sebagai laki-laki normal yang sedang dalam perjalanan kesendirian menempuh jauhnya pencarian.
Ini adalah benar-benar masa kami,masa yang ta pernah ingin kami singgahi tanpa keterpautan.Kami sungguh di mabuk kepayang, aku ta pernah merasa minum-minuman yang memmbuat orang melayang. Tapi aku sungguh-sungguh seperti meng-angkasa,bahkan aku merasa fungsi-fungsi akalku ta bekerja secara sempurna. Yang akhirnya menggeser kedudukan sisi realita dan fakta.Ia yang turut memberi warna dalam setiap tarikan nafas yang entah kapan akan berhenti melingkupi paru-paru.
Ia berangkat dari keluarga yang tulus memberi apa yang di butuhkanya,ta heran jika ketulusan dan kemurnian sifat meliputinya.Membahagiakan keluaraga adalah harga yang ta tertawar lagi baginya,ia ingin bisa mewujudkan harapan ayah bunda dengan memberi kado ikhwan sejati. Sosok ikhwan yang sanggup mengukir senyuman dengan lepas dan bangga atas raut wajah ayah bunda.Bukan hanya ikhwan yang sangup menaklukan bumi,tapi juga sosok ikhwan yang sanggup menaklukkan langit dan meletakkanya di ketinggian harapan demi akhir yang baik yaitu khusnul khotimah.Hatiku miris mengkerut.
“Mudah-mudahan ini bisa menjadi bagian dari nilai baktiku di akhir masa lajangku” pikirnya.
Tuturnya selalu dalam nuansa-nuansa kompromi walaupun jurang pemisah itu terus menganga dalam pengetahuanya. Menambah aroma optimimisme yang kian tumbuh dengan subur. Menggurat dalam setiap keadaan.Ia gadis baik dalam kesejatianya yang tumbuh dalam masa perang pemikiran dan idiologi seperti saat ini. Tetap berharap syurga sebagai akhir ruhnya akan menetap kekal.
Matahari terus bergerak bersama perputarannya melahirkan siang dan malam dalam ketetapanNYA menembus batasan waktu.Kebersamaan tanpa ikatan ini kian menghanyutkan kami dalam keterlenaan berkepanjangan.Akhirya kami memutuskan untuk ta saling berkomunikasi dalam masa tiga hari ke depan.Masa tiga hari telah membuka kembali cakrawala yang selama masa perkenalan ini tertutupi.Kami menyadari banyak kesalahan yang sudah terjadi.Alam kenyataan selalu menghendaki jawaban realistis.
Desember 2008,
Iblis yang dari awal penciptaan merasa lebih mulia dari Adam as dan berlaku durhaka atas perintah sujud kepada Adam as kemudian terlaknat dan mendapat hadiah kekekalan di neraka.Kemudian menyatakan dan menabuh genderang perang untuk meyeret anak keturunan Adam as mengikuti jejaknya tanpa terkecuali kami,na’udzubillah mindzalik.
Dalam beberapa kesempatan kebersamaan, aku selalu menyiratkan melalui beberapa tulisan atau kata-kata.Tentang realita yang ta searah dengan harapan,tentang kegundahan-kegundahan yang menjalari,tentang kaidah-kaidah yang seharusnya di taati.
Bu….,
Aku tau,yg engkau sebut sebagai pujangga syurgamu
adalah manusia biasa
Ia bukanlah malaikat yang terjaga kesucianya
Ia yang lemah lagi lalai
Ia hanya sanggup berharap ridho serta RahmanNYA
yang Maha luas
bahkan lebih luas dari lautan rasa yang tepianya
ta pernah terukur dan terjabarkan
Sebagaimana seluruh makhluk yang tunduk sujud
dalam kesempurnaanNYA.
Yang engkau anggap pujanggapun tunduk dalam kenalurianya
untuk mencita-citakan ketenangan dalam keabadian.
Sluruh rasa,walau setetespun ta pernah luput
dari pengetahuanNYA.
Cita-citanya adalah cintaNYA walau sebesar biji sawi,
ia akan menanggungnya.
Engkau dan aku adalah milikNYA,
berharaplah kepaNYA,kupastikan kau tak kan kecewa.
(kataku).

Namun rupanya setan lebih tau tentang kami di banding diri kami sendiri.Masa tiga hari ta jua membuat kami lebih mengerti.Seolah awan kegelapan sedang berjalan melambat menutupi hati ini,hingga pancaran cahaya ta berkenan menyinari.Hasrat untuk segera memiliki dan menjadikanya perhisanku di duniapun semakin membuncah ta beraturan.
Tetapi harapan-harapankupun menuai pupus di tempat awal persemaiannya,Bukan karena ia menolakku,tapi karena aku salah memposisikan diri.Tuhan memberiku amanah sebagai pengemudi taxi,yang secara strata dan status social hanya bisa di sebut sebagai pekerjaan rendahan.Yang sangatlah ta sepadan jika harus di sejajarkan dengan kalangan akademisi atau pemikir,tentu ini akan menjadi bahan pertanyaan dan gunjingan walaupun tidak oleh setiap orang.Akan tetapi itulah realita kapitalisme yang ada yang tanpa sadar telah menggeser kebijakan hidup Ketauhidan.Untungnya ia ta sepenuhnya berkebijakan hidup demikian.Ia masih dengan toleransinya memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri dalam sisi ini.
Dunia seperti sedang berpihak kepada kami,benih-benih simpati semakin tumbuh subur dan mengakar di setiap hati kami.Melahirkan saling memuji dan memaklumi dalam setiap kesempatan perbincangan serta tulisan-tulisan.Jarak Jakarta -Surabaya ta menghalangi kami untuk saling menitipkan harap.
Namun tetap saja aku di hadapkan pada kenyataan,bahwa ia terlalu jauh untuk aku meraihnya.Memang kenyataan pahit untukku,sebab keluarganya menghendaki sosok ikhwan yang lebih sempurna dari diriku.Sebelumnya kehidupanku berjalan biasa-biasa saja,tapi kini kekalutan demi kekalutan kembali menari-nari dalam awanganku.
Masih di awal desember.Sang surya beranjak ke peraduanya,cahaya keemasan yang mengikat teduh dalam hening berganti menjadi warna gelap.Bersambung suara penerus Bilal bin Rabbah yang membahana di seantero alam raya,mengajak setiap jiwa menempuh jalan kebahagiaan yang sesungguhnya.Ta ada angin ta ada hujan,ta ada petir ta ada mendung pekat.Dalam percakapan ringan selepas magrib itu melalui pesan-pesan singkat,ia memutuskan untuk mengakhiri pertalian ini.Aku meng-iyakanya dalam tanya,hatiku mantap untuk meyelesaikan keterlenaan ini.Tangis sendunya kembali pecah mengiringi keputusan yang ia buat sendiri.Keputusan yang memang sementara lalu hanya sanggup bersembunyi di balik ketidak sadaran kami. Malam aku lalui bersama tanya dan faham yang memang seharusnya aku yakini.Bahwa seluruh kejadian telah menjadi ketetapanNYA.Kepahitan-kepahitan hanya akan mengantarkan kepada kemanisan yang sejatinya.

Wahai bumiku, tetaplah suburmu menjadi harapan bagi jiwa-jiwa
yang menaruh harap
Wahai bumiku, tetaplah luasmu menjadi penampung
bagi tetesan-tetesan kegelapan yang berarak di pertengahan,
Wahai bumiku, tetaplah kau lahirkan tunas-tunas
bagi tumbuhnya asa-asa yang telah di titipkan kepadamu
Wahai bumiku,tetaplah hijaumu menjadi penyejuk
bagi gersang-gersang yang liurnya telah sampai di kerongkongan.
Aku yang terlupa bahwa engkau adalah bumi,
Aku yang terlupa dan terlena memandang bahwa engkau
berada di belahan alam kenyataan.
Aku yang terlupa dan terlena memandang
bahwa engkau telah di garisi
Aku yang terlupa dan terlena memandang
bahwa engkau menyimpan berlian dan permata.
Aku yang terlupa dan terlena memandang
bahwa engkau di awani kemuliaan dan kasih sayang
Aku yang terlupa bahwa tanganku hanya sebatas bahuku,
Semestinya aku bercermin
Semesinya aku berkaca
Bahwa permata dan berlian ta bisa di sederajatkan
dengan batu murahan.
Cermin tetaplah cermin,
Dan tanganku ta akan pernah sampai pada bayangan dalam cermin.

Ia adalah kefanaanku
Ia adalah kegaibanku
Ia adalah kepalsuanku
maafkan aku wahai bumiku…
(rasaku)

Sehari berlalu kiranya sudah sanggup membongkar kesia-sian pertautan ini.Akalku mengatakanya secara jelas dan tegas.Tapi masih saja dorongan-dorongan dari dalam diri terus memohon dan mengoyak-oyak ketegasan akalku.Perang batin, mungkin demikian yang aku alami saat itu.Aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku adalah seorang supir taxi,sedang yang ia butuhkan lebih dari itu,biarpun ia memberiku kesempatan untuk meraih mimpinya.Sedangkan usia dan posisinya menuntut untuk segera menemukan sosok imam yang sesuai bagi diri dan keluarganya.Akan berapa lama dan dalam bentuk seperti apa aku bisa melewati kebersamaan ini.Di sisi lain, aku merasakan bahwa ia memiliki kecenderungan kuat atasku.Entah rasa apa itu,hanya pecahan tangisnya yang selalu membujukku untuk berdamai denganya.
Akupun memilih menuruti dorongan rasaku untuk melanjutkan pertalian tanpa ikatan ini.Yang aku yakini ia akan bisa lebih menerima dan memahami posisiku.Harapanpun mendapat tempat sebagaimana yang di harap.Hingga aku memutuskan untuk memperjuangkanya, bersama ketidakmungkinan yang masih setia menyertai.
Taman-taman mimpi terasa mejadi lebih indah dari biasanya,semua beriringan dalam keteratuaran dan kesesuaian.Pagi, siang, sore, malam, melaju mengiringi rasa yang terus membuncah.Rasa-rasa yang ada mulai merengek minta di wujudkan dalam pengakuan kepastian.Terlafazlah kesepakatan-kesepakatan untuk saling memahami dan memberi kebaikan di dalam masa penantian yang entah sampai kapan.
Akhir desember, kesungguhanpun menuai ujian.Laki-laki berparas tampan dan berkecukupan,jauh-jauh datang dari negri kangguru.Ia orang bertanah kelahiran Indonesia yang telah lama menetap di benua Australia.Sebagaimana aku, Ia yang juga di pertemukan melalui milis perjodohan itu telah lebih dulu mengenalnya.Hanya saja, kisahnya tidak di ikat oleh kesepakatan,juga ta di restui oleh rasa dan simpati.Namun Ia tetap menyengaja datang ke tanah republik ini demi gadis impianya.Perempuan yang membantunya mencerahkan fikiran,pemahaman dan menunjukan jalan kepadanya tentang hakikat kehidupan. Gadis impianya yang telah bersepakat dan berkomitmen untuk setia menantiku.
Dengan sepengetahuanku pertemuan itu berlangsung dalam kesan yang di redamkan dari pertanyaan dan kecurigaan.Secara lugas laki-laki dermawan itu menyatakan maksud kedatanganya.Di perkenankanya pula perjumpaan itu berlanjut dalam walayah orang tua dan keluarga.Yang sebelum itu aku telah minta walayah itu,namun ta mendapat kesepakatan.Alangkah berbunganya hati sang Bunda dan Kang Mas,mengetahui putrinya di tandangi seorang pemuda berparas cukup usia nan rupawan.Angin segar menyapu merdu kesepakatan-kesepakatan dan janji setia untuk menunggu pujangga amatiranya.
”Nak, Bunda dan masmu setuju dengan pangeran emas itu, yang telah jauh-jauh datang menyeberangi lautan untuk sekedar menemuimu.Bunda yakin ia orang baik.”.ungkap jujur sang Bunda tercinta.
Selepas pertemuan keluarga,perjalanan berlanjut dari tanah Babat Lamongan menuju kota Surabaya.Dengan menunggang kijang silver yang memang sengaja di persiapkan oleh Pangeran emas untuk melengkapi suasana.Berdua dalam dua jam perjalanan Babat-surabaya cukup untuk memberi kejutan bagi Bu Dosen muda yang cerdas.Bukan laki-laki namanya kalau ta sanggup berjuang menggenapi kesendirian.Hati putri yang mandiri pun bergemuruh menikmati kejutan-kejutan.Begitu dahsyatnya kejutan itu menggedor dinding komitmen dan kesepakatan dengan pujangga amatiran.Di tambah ke-ridho-an Bunda yang terus membisiki.Bu Dosen muda terbang dalam rona bahagia dan kebingunganya.
”Supir taxi itu telah membuatku membumbung tinggi,tapi sekarang rasa itu hadir bersama Pangeran emas.Yaa muqolibal qulub”.keluh Bu Dosen dalam keterkejutanya.
Tiga hari berlalu aku baru menyadari kalau telah di sediakan pesaing untuku dari bumi sejahtera Australia.Dari awal perjumpaan,sinyal-sinyal itu sudah bisa aku mengerti.Sebelum janji suci di ikrarkan dalam bingkai syar’iah,siapapun berhak memperjuangkanya.Kecewaku tetap ta mau di rayu untuk selamanya sembunyi,terkadang setan turut membonceng maksud di kepalaku.Lelaki Australia itu telah lebih dulu menemuinya untuk melengkapi niat dan melapangkan jalan perjuangannya.Dan Bu Dosen yang memiliki keluasan pemakluman bersedia membuka pintu kesempatan itu dengan kerelaan terbatas.
Malam menjelang tahun baru,Bu Dosen dalam usahanya menyusuri perenungan menetralkan rasa yang di taburkan oleh pangeran emas dan aku tentunya. Malam itu ia hanya ingin sendiri dalam sunyi, menyepikan hati dan jiwanya dari keramaian peristiwa. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali merajut benih yang sudah kami sepakati di pertengahan.Jiwaku bersuka cita.
Januari 2009,
Tahun telah berganti, 2008 pergi untuk selamanya dan ta akan pernah mau kembali lagi.Pagi itu begitu cerah,secerah impianku yang sedang menghiasi sela-sela fikiran.Hari itu aku ungkapkan niatku untuk merencanakan pergi ke Surabaya mengokohkan pertautan kami.Dia memang telah tau, jika aku merencanakan pertemuan di awal januari ini.
Jarum jam seakan berdetak lebih lambat dari masa lalunya.Masa penantian perjumpaan yang menggelisahkan,rasanya ingin cepat sampai di delapan januari.Walaupun kenyataanya delapan januari masih menjadi bayangan di masa depan.Hampir setiap malam kami mengisi penantian dengan percakapan yang di sajikan oleh operator jaringan dengan jaminan tariff murah.Ia juga tetap bersedia terjaga dengan setia menemaniku dalam keletihan raganya.
Kelalaian demi kelalaian kami sadari telah semakin menggelayuti. Masa penantian yang rasanya mengeratkan,justru mendorongku ke tepian jurang tipu daya setan yang dengan kesabaranya selalu menggintaiku.Aku seperti hancur berkeping-keping.Nilai-nilai Ketuhanan yang selama ini menjadi tonggak berdiriku di alam fana semakin hari semakin terkikis rapi.
“Bukankah Al Islam secara tegas dan jelas telah menyediakan jalan tentang bagaimana konteks berhubungan dengan lawan jenis yang lebih sehat?”.hatiku bergemuruh
Ketidak stabilan jiwa membuatku merintih sedih dan pilu membisu.
”Bu..? aku rasa aku harus mengurungkan niatku untuk menyambangimu di Surabaya..,bagaimana menurutmu?” keluhku.
“Terserah….!”.jawabnya singkat.
“Bu..? jiwaku masih sakit, kelalaian itu telah memporak-porandakan prinsip kehidupanku tunggu sampai aku mampu menstabilkanya seperti semula..!”.pintaku.
“Sampai berapa lama mas merasa yakin bisa menstabilkanya,enam bulan,satu tahun,atau malah dua tahun.Apakah mas bisa menjamin kepastianya…?”.Ungkap Bu Dosen.
“Baiklah Bu..! memang aku ta bisa menjamin kepastianya.Lalu bagaimana sebaiknya aku..?berangkat atau tidak..? jawablah singkat..!”. Mohonku.
“Berangkat…..!!!”. jawabnya dengan penuh keyakinan.
Delapan januari 2008, aku berkemas untuk berangkat ke Surabaya dengan membawa penyakit mental yang masih menjalari jiwaku.Sore hari aku berpamitan dengan kedua orang tuaku dan kedua adikku.Yang sebelumya telah aku jelaskan kepada mereka perihal tujuan kepergianku ke kota pahlawan itu.Mereka turut menyertaiku dengan doa.
Satu malam terlewati berkawan penat, ketidak nyamanan, risau, serta galau.Tujuan keberangkatanku masih tercemari oleh virus yang memboncengiku di kepala atas rasa kecewa terhianati yang bersembunyi di sudut hati.
”Yaa Robbi tetapkanlah jalan kebaikan atas fikiran dan perbuatanku”.
Pagi hari,setibanya di stasiun pasar turi, bersambut langit Surabaya yang mendung tipis,aku melangkahkan kakiku menuju pengharapan yang kian nampak nyata.Rasa gembira dan bangga menghampiri lapisan hatiku yang ciut.Aku rehatkan sejenak anganku.Di sebuah warung kopi,di pojok sisi luar stasiun,aku menikmati secangkir kopi hangat dan beberapa potong kue.Cukuplah untuk mengganjal perut hinngga siang nanti.
“Pak..? mobil jurusan masjid Ampel yang mana ya..? tanyaku kepada penjual kopi.
“Itu yang warna biru telor asin, deket ko’ dari sini”. Jawab sang penjual kopi sambil menujuk ke arah mobil yang di maksud.
“Terimakasih pak..!”
Dalam diamku bersama kopi dan sepotong kue, hatiku terus berbisik.
“Jiwa yang sakit,rasa yang masih belajar di mengerti.Semoga ta hancur lebur”.
Beserta harap yang masih terus bersuara meski tanpa kata,ku lanjutkan laku-ku menuju masjid Ampel.
Sebelum sholat jum’at, Bu Dosen akan menjemputku di masjid Ampel.Setibanya di masjid yang dahulu di dirikan oleh sunan Ampel tersebut,ku sempatkan membersihkan diri dari bau kecut yang masih tersisa dari perjalanan semalam.Bersambung ziarah ke makam sunan Ampel. Jiwaku sedikit terobati dari resahnya, kurebahkan badanku di halaman masjid. Memanjakan lelah yang semakin minta di kasihani.
“mas, aku dah sampai di parkiran masjid”. Begitu kata Bu dosen yang di kirim melalui pesan singkat.
Aku beranjak menghampirinya, bersama seorang teman yang kebetulan sedang berziarah ke makaam sunan Ampel.Ku habiskan masa menugguku dalam obrolan santai bersama pak Maksum.
“Assalamu’alaikum” ucapku bersama pak Maksum.
Jantungku berdetak lebih cepat. Dengan sigap ku coba menata sikap tenang dan santai dalam suasana keakraban.
“Wa’alaikum salam”. Jawabnya dengan mata menghindar dari tatapan.
Sesaat bercakap, kami-pun mohon diri kepada pak Maksum untuk bergegas ke penginapan yang lokasinya ta jauh dari tempat Bu Dosen menetap.
Diantar sepeda motor supra fit hijau muda bergaris. Melaju dengan kecepatan rendah. Perjalanan berlangsung renyah. Ia menerangkan kepadaku detil setiap liku jalan yang kami lalui. Seolah ia adalah pejabat teras kota ini. Yang wajib tau setiap lekuk dari wilayah yang di kuasai.Satu jam yang kami butuhkan untuk menempuh jarak dari masjid ampel ke penginapan.
Udara Surabaya ta jauh berbeda dari Jakarta. Yang membuat berbeda hanya gadis baik hati yang ingin segera ku-nikahi. Keakraban mulai tercipta seperti yang di harapkan. Seperti kami telah mengenal lebih lama dari waktu yang ada.Sesekali senyum tertahan mewarnai bunga rasa yang sedang beranjak mekar. Mendung tipis sudah berarak pergi tersapu angin dengan tenang. Dalam laju yang perlahan, tiada henti kami berkisah.
Menjelang waktu jum’at kami tiba di Rungkut tempat kediaman Bu Dosen. Aku mohon diri untuk menunaikan sholat jum’at. Dari kediamanya Ia mempersiapkan segala yang aku butuhkan selama nanti di penginapan. Usai jum’at, Bu Dosen yang berpostur tinggi ini mengantarku ke penginapan untuk istirahat.
Sejenak kami berbincang di ruang tamu penginapan. Dengan laptop yang sengaja di bawanya untuk menemani sendiriku di penginapan, ia membuka lembar demi lembar masa lalunya. Melalui gambar-gambar hasil jepretanya. Ia terus bertutur. Tentang keluarga besarnya yang selalu di rindui, tentang sahabat kuliahnya yang selalu menyemangati, tentang teman kos-anya yang selalu menemani. Semua menunjukan strata social di atas rata-rata bagiku. Hatiku kaku, mengkerut semakin ciut. Ia sungguh gadis beruntung, ta perlu meneteskan keringat untuk mempertahankan hidup. Berbeda tiga ratus enam puluh derajat dengan apa yang aku alami. Otakku terus berputar ta karuan dalam kekakuan.
Entah setan apa yang merasuki jasadku, tiba-tiba ku pegang dan kucium tanganya dan kukatakan,
“aku ingin menikahimu.”
Ia hanya bisa terkesiap seolah ta percaya.
“Laki-laki yang kuyakini dapat membimbingku kepada jalan ketenangan telah berlaku durjana. Hah…” diamnya dalam sesak.
Racun yang menjalari tubuhku telah menampakkan keaslianya. Ta butuh waktu lama, ia buru-buru beranjak pamit pulang. Ku lewati malamku bersama situs-situs dengan keaneka ragaman angan-angan berdalih unlimited.
Hari berikutnya di pagi hari, ia mengajakku ke taman kota meluruhkan sejenak kecewanya. Pohon-pohon rindang berjajar tertata di pagari. Bunga matahari terlihat terawati. Kupu-kupu dan serangga berseliweran melengkapi. Suasana ramai oleh beberapa orang tua yang mengasuh buah hati. Berbeda dengan kami yang dalam kekakuan tanya, langit-langit rasa itu telah tercemari. Oleh pujangga amatirannya yang sok suci.
Dua hari kebersamaan tatap, telah kami hiasi dengan kebekuan tabiat. Masa-masa yang dulu renyah mengikat tergulung ombak durjana. Walaupun ia ta mengukirnya dengan kata-kata, hatiku menangkap getaran resahnya. Rencana-rencana yang pernah ada menguap entah kemana. Ta ada yang jadi manfaat dalam masa perjumpaan.
Sore, di sebelas januari aku kembali kejakarta. Ibu kota tercinta. Sambil menuggu jadwal keberangkatan kereta jam delapan belas tiga puluh. Kami maenyempatkan diri kembali ke taman kota. Di depan sebuah kolam ikan yang di jaga beningnya, ia bertutur terbuka.
“ Mas, apa yang telah kita lewati sungguh telah keluar dari jalur yang semestinya kita pegang teguh hingga akhir hayat.”
“Kita sama-sama orang tau, tau batasan antara yang muhrim dan bukan muhrim.”
“Tau dan faham bagaimana sebaiknya hubungan ini di ikat dengan sehat.”
“Aku ta ingin lari dari Tuhanku.”
“Aku ta ingin kebersamaan ini terlumuri oleh nafsu.”
“Walau mas hanya mencium tanganku, itu sesuatu yang hina bagiku dan bagi agama kita pastinya.”
Aku hanya mampu diam menyesal. Rasa optimisku telah membohongiku dan menipunya. Kepalaku seperti di benturkanya ke tembok. Jantungku bagaikan di tusuk jarum dan bocor. Bibirku kelu ta bersuara. Ingin ku ceburkan saja tubuhku ke kolam yang menganga di depan mata. Jika itu mampu menyembuhkan luka.
Namun kata hatinya terus ia tumpahkan. Dengan nada datar, tanpa lagi kepalsuan dan pentabiran.
“Mas, maafkan aku jika harus mengecewakanmu..!”
“Aku ta bisa membohongi diriku untuk terus bersamamu.”
Langit seolah ikut marah dan ingin turut serta menghakimiku. Seketika langit menjadi mendung pekat. Air murni lagi tawar jatuh ke bumi Surabaya. Aku tau banjir air matanya turut serta tumpah. Ingin rasanya segera menyudahi kekeluan ini. Ia segera beranjak mengantarku ke stasiun kereta. Di perjalanan hujan ta jua reda, ia seperti air bah yang ingin ikut ambil bagian menghapus noda yang ada. Sepeda motor supra fit hijau bergaris, terus membelah jalan kota Surabaya menuju stasiun kereta.
Setibanya di stasiun kereta sudah ta ada lagi yang tersisa, biarpun sekedar kata. Tinggal bisu yang haru.
“Ma’afkan aku Bu….?” Suaraku memohon.
“Aku juga minta maaf mas, atas rasa yang ta sanggup aku teruskan.”
“ Semoga yang tersisa hanya perbaikan dan kebaikan.”Ucap terakhirnya.
Kamipun berpisah, untuk ta akan pernah kembali berjumpa. Dan hanya takdir yang akan membuat keajaiban.
Gerbong kereta kembali membawa jasadku ke Jakarta. Bersama gelapnya mata saat terpejam, bersama lelah jiwa dan rasa. Raga hanya lunglai ta berdaya bersandar bangku kereta Lamat-lamat semakin ketara, Khutbah jum’at di Masjid Rungkut Surabaya menghampiri ingatanku.;

“”Segala puji bagi Allah yang mana anak panah keraguan tidak mendapatkan tempat berjalan mengenai keajaiban-keajaiban ciptaanNYA. Dan akal tidak kembali dari awal terciptanya kecuali hilang akal karena sedih dan bingung. Dan senantiasalah ni’mat-ni’matNYA yang halus-halus kepada seluruh alam itu terlihat. Ni’mat-ni’mat itu berturutan atas mereka dengan usaha dan paksaan.
Sebagian dari keindahan kelembutan-kelembutanNYA adalah Dia menciptakan manusia dari air mani, lalu Dia menjadikanya keturunan dan berkebangsaan. Dan Dia kuasakan kepada makhluk akan syahwat yang memaksa mereka untuk menanam benihnya dan mengekalkan keturunan secara paksa. Kemudian Dia besarkan urusan keturunan dan Dia jadikan ketentuan. Maka dengan sebab itu di haramkan perzinaan. Dan Dia bersungguh-sungguh dalam memburukanya dengan mencegah dan melarang. Dan di jadikanya pelanggaran zina itu sebagai dosa yang keji dan urusan yang mungkar. Dan Dia mensunahkan dan mendorong kepada pernikahan serta memerintahkanya.
Maha suci Dzat yang memastikan kematian atas para hambaNYA. Lalu Dia menghinakan mereka dengan kehancuran dan kebinasaan karena kematian itu. Kemudian Dia menyebarkan bibit-bibit mani di tanah-tanah rahim. Dan daripadanya Dia menciptakan makhluk. Dan Dia menjadikanya binasa karena mati secara paksa. Untuk perhatian bahwa lautan takdir itu melimpah ke seluruh alam dengan kemanfaatan dan kemudharatan,kebaikan dan keburukan,kesulitan dan kemudahan,pelipatan dan penyebaran. Semoga rahmat dan kesejahteraan tetap atas Muhammad yang di utus dengan memberi peringatan dan kabar gembira.””

Air bening mengalir meleleh dari sela-sela mata. Menyadari lupa atas durhaka. Mencoba mengetuk pintu atas nama Taubatan Nasuha.
“Yaa Robbi, tampakanlah kepadaku yang Haq itu Haq dan jadikanlah aku mampu untuk menitinya”
“Yaa Robbi, tampakanlah kepadaku yang batil itu batil dan jadikanlah aku mampu untuk meninggalkanya.”
(bersambung)

Sekedar berkaca
Lupa pulang..
Lupa akan kampung halaman..
Lupa akan tujuan setelah kematian..
Terkadang, dan mungkin terlampau sering
Kesadaran kita tertidur..
Kita terlampau asyik..
Bersama kelalaian dan kepayahan dunia.
(anto)

Catatan: tulisan ini bukanlah cerpen, novel, karya sastra
Atau bentuk-bentuk kotak lainya.
Ta ada dialog yang kuat di dalamnya.
Karena aku takut salah tafsir atas dirimu,
keluarga, dan pesaingku waktu itu,
jika harus memasukkannya menjadi karakter.
Jadi Ini adalah bentuk curahan rasa dan fikir saja.
Ada beberapa hal yang aku samarkan, dan tentu engkau tau
Aku tidak bermaksud mendeskriditkan siapapun.
Jika ada kesalahan kepenulisan dan maksud,
mohon di maafkan.
Ku tulis ini bersama keadaan jiwaku yang mulai tenang.
Terima kasih atas sikap ta pedulimu.
Dan selamat hari lahir, di 23 nanti.
Salam untuk org-org tercinta.
Semoga Allah mengampuni dosaku..
Wassalam,
(rumah kontrakan, 31/01/08-04/02/09), anto

Jan
22

Mungkin sering kita mendengar kata “taubat” bahkan mungkin terlampau sering hingga lintasanyapun sekedar lalu hinggap di pendengaran dengan sedikit di embeli kata “tahu”.
Apakah taubat yang sering ke-laluan itu?
Sederhana memang kata taubat itu.Zahirnya di buktikan dengan dua rekaat sholat sunnah taubat,sedang batinya dalam pengakuan.
Pertaubatan di awali oleh khilaf yang di perbuat oleh seorang hamba kepada ALLAH TA’ALA.Kemudian ia mengakui secara zahir maupun batin atas khilaf tersebut dan ber-azam untuk tidak mengulanginya.
Secara nyata taubat itu di wujudkan dengan dua rekaat sholat sunnah.Dan secara tersirat janji itu ada di dalam hati.
Taubat itu janji,janji kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk ta lagi berbuat durhaka,janji untuk setia di jalanya.Ini bukan perjanjian biasa antara seorang manusia dengan manusia yang berbeda.Tapi ini adalah janji seorang hamba kepada Tuhannya,janji yang nanti akan di tagih dan di minta pertanggung jawabanya.
Di sinilah letak ujian itu,memegang teguh dan meng-istiqomahkan janji itu,dan melunasinya hingga akhir waktu, sebab rentangnya tergantung bilangan yang akan membatasi usia.Di dalam rentang itulah termaktub perjuangan.
iblispun tau perjanjian itu.Dan dia(iblis) akan terus bergerilya untuk menggoda sampai hamba terjerumus dalam nista,dan menemaninya di neraka(astagfirullah- ampuni aku ya ROBBI).

Jan
16

berat bebanku meninggalkanmu
separuh nafas jiwaku sirna

bukan salahmu, apa dayaku
mungkin benar cinta sejati
tak berpihak pada kita

kasihku sampai di sini kisah kita
jangan tangisi keadaannya
bukan karena kita berbeda

dengarkan, dengarkan lagu-lagu ini
melodi rintihan hati ini

kisah kita berakhir di januari

selamat tinggal kisah sejatiku
ooo pergilah

(sekedar lagu….yang lagi seneng kudengerin)

Download Disini

Jan
16

Slalu kusesali dosa,slalu kuulang kembali
dan Engkau masih memberi kebahagiaan..
aku bukan hamba pilihan.
Allah berfirman “wahai manusia,AKU heran kpd orang yang yakin akan kematian tapi ia hidup beserta ria
AKU heran kepada orang yang yakin akan pertanggung jawaban d akhirat,tapi ia asyik dan mengumpulkan harta benda
AKU heran pada org yg yakin akan kubur,tapi ia tertawa terbahak-bahak
AKU heran pada org yg yakin akan adany alam akhirat,tapi ia menjalani kehidupan dg bersantai-santai
AKU heran pada org yg yakin akan kehancuran dunia,tapi ia menggandrunginya
AKU heran pada manusia,yang bodoh dalam soal moral
AKU heran pada manusia yang bersuci,namun hatiny masih tetap kotor
AKU heran pada org yg sibuk mencari cacat org lain,smentara ia lupa pada cacat dan aibny sendiri
AKU heran pada org yg yakin bahwa ALLAH slalu mengawasi sgala perilakuny,tapi ia berbuat durjana
AKU heran pada org yg sadar akan kematianya kemudian akan tinggl dlm kubur seorg diri lalu di mintai pertanggung jawaban seluruh amal perbuatanya tapi ia berharap belas kasih dari org lain
Sungguh tiada Tuhan selain AKU,dan Muhammad adalah hamba dan utusanKU”"

ALLAH berfirman;
“Barang siapa tidak mau menerima suratan nasib yg telah AKU gariskan,tidak bersabar atas segala cobaan yng AKU berikan,tidak mau berterima kasih atas segala nikmat ynag AKU curahkan dan tidak mau menerima apa adanya atas segalanya yang AKU berikan maka sembahlah Tuhan selain AKU..!
Barang siapa yang susah oleh urusan dunia, sama saja ia marah kepadaKU
Barang siapa yang mengadukan musibah yang menimpa dirinya kepada orang, ia sungguh2 berkeluh kesah kepadaKU
Barang siapa tidak bertambah tingkat penghayatan ke-agamaannya,sungguh ia dalam keadaan yang slalu berkurang,
Barang siapa yang terus menerus dalam keadaan berkurang,kematian adalah jauh lebih baik baginya””

ALLAH berfirman “ wahai manusia terimalah anugrah yang KUberikan dg lapang dada,maka engkau tidak akan berharap kepada pemberian orng lain,
tingglkanlah rasa dengki,maka engkau akn terhindar dari kegelisahan hidup
hindari perbuatan haram,maka engkau akan aman dari kerancuan dalam beragama
Barang siapa mampu menjaga diri dari membicarakan kejelekan orang lain,maka kecintaanKU akan KU anugrahkan kepadanya.
Barang siapa yang mengisolasikan diri dari kerumunan orang,maka ia akan terhindar dari pengaruh jeleknya.
Barang siapa mampu membatasi diri dari berbicara yang tidak ada gunanya,itu menandakan kematangan akalnya.
Barang siapa menerima dg lapang dada atas pemberian ALLAH yang sedikit,maka ia penuh percaya kepada ALLAH “.

ALLAH berfirman “wahai manusia, barang siapa berduka karena persoalan dunia,maka ia hanya akan kian jauh dari ALLAH,kian nestapa di dunia,dan smakin menderita di akhirat.
ALLAH akan menjadikan hati orang tersebut di rundung duka selama-lamanya,kebingungan yang ta berakhir,kepapa-an yang berlarut-larut,angan –angan yang selalu mengusik ketenangan hidupnya.
Wahai manusia, hari demi hari usiamu kian berkurang,sementara engkau tidak pernah menyadarinya
Setiap hari AKU mendatangkan rizki kepadamu,sementara engkau ta pernah memujiKU
Dengan pemberian yg sedikit engkau tidak pernah mau lapang dada,dg pemberian yang banyak engkau juga tidak pernah merasa kenyang.
Wahai manusia,setiap hari aku mendatngkan rizki kepdamu,sementara setiap malam malaikat datang kepadaKU dengan membawa catatan amalan perbuatan jelekmu.
Engkau makan dengan lahap riskiKU,namun engkau ta segan2 berbuat durjana kepadaKU.
AKU qobulkan jika engkau nemohon kepadaKU,kebaikanKU ta putus putus mengalir untukmu,namun sebaliknya catatan jelekmu terus mengalir kepadaKU tiada henti.
AKU-lah pelindung terbaik untukmu,sementara engkau hamba terjelek bagiKU
Kau raup segala apa yang AKU berikan untukmu,kututupi kejelekan demi kejelekan yang kau perbuat secara terang terangan.
AKU sungguh sunggh malu kepadamu,sementara engkau sedikitpun ta pernah merasa malu kepadaKU.
Engkau melupakan diriku dan mengingat yang lain,kepada manusia engkau merasa takut sedangkan kepadaKU engkau merasa aman-aman saja.
Kepada manusia engkau takut di marahi, tapi kepada murkaKU engkau ta peduli”

Jan
12

aku sudah ta sanggup lg brkata-kata.
tinggl khilafku yg menyisakan diam sesak
ungkapkan sesuatu padaku…!
putri murni….?
walaupun racun yg kutuang ta terangkat,
ijinkan aku mengusahaknya..
Ciri imam yg kau damba ta lg melekat padaku.
hanya ciri iblis-setan durjana yg ada.
Aku tau batinmu trisak penuh sesal.
Akulah manusia jadi-jadian itu yg menyebabkny
aku mengemis maafmu setiap waktu.
maafkan aku putri suci…

Jan
12

ia yang tak pernah datang di awal perjumpaan

ia yang tak terpikir untuk dihindarkan

ia yang mungkin terpikir tapi dimudahkan dengan pemakluman

ia yang membuat air mengalir dari pelupuk mata

ia yang membuatku ingin melepas hati dari raga

ia yang membuatku tersungkur di kegelapan malam

ia adalah…..

…..Penyesalan…..

Des
31

Aroma petasan sudah mulai terasa…
Lamat-lamat tp ketara
ia meniup-niup gendang telinga,
ta lama lg taun segera brganti..
apa saja yg telah d lewati?
Isi-isi kepala mencoba mereviw,dn mendefisinikn dg caranya..
petasan hnyalah simbol, yg telah turun temurun d lestarikn oleh kaum materialis…
pd hakikatny bukanlah petasan itu..
ak mengerti…
tp ak jg ta mengerti,
Ak tau
ta ak jg tau
Ak faham
Tp ak jg ta faham
hidup…dan kehidupn.
seperti suara petasan yg memekakan,dan kadng trlihat sia2,
tp d akar-ny ad mahluk yg numpang diri..

kerumunan manusia malm ini berantusias membanjiri jalanan,
dg perbekalan niat yg bragam pula..